Sabtu, 19 April 2008

Peran Keluarga dalam Pendidikan Usia Dini

Republika Selasa, 15 April 2008

Oleh :

Najamuddin Muhammad
Peneliti pada Center For Developing Islamic Education (CDIE) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Salah satu tema yang belum banyak disentuh oleh pengamat dan praktisi pendidikan adalah pentingnya pendidikan anak usia dini. Selama ini banyak arus pembicaraan pendidikan yang terfokus pada wacana pendidikan formal.

Padahal, menggalakkan wacana pendidikan anak usia dini tidak kalah pentingnya. Pendidikan anak usia dini termasuk fondasi paling fundamental bagi terbentuk dan terciptanya masa depan pendidikan remaja yang lebih edukatif.

Anak-anak mempunyai perkembangan mental, spiritual, dan moral yang potensial untuk dibangun. Pendidikan anak usia dini secara lebih ekstrem adalah awal paling potensial dari pembentukan karakter kepribadian dan jati diri.

Kalau dalam perjalanannya banyak perilaku nonedukatif yang dilakukan oleh pelajar remaja, maka akar persoalannya tidak hanya bertumpu pada faktor-faktor yang sudah berada pada eranya, tapi jauh lebih berperan adalah faktor tidak adanya perhatian penuh semenjak anak usia dini. Faktor yang demikian termasuk cukup dominan mengingat usia dini adalah usia yang cukup potensial perkembangan kejiwaan anak dan seakan menjadi cermin saat remaja.

Sebagaimana juga ditegaskan oleh Glueks (1986) bahwa remaja yang berpotensi menjadi nakal dapat diidentifikasi sedini usia dua atau tiga tahun karena perilaku antisosialnya. Pendidikan anak usia dini adalah salah satu solusi paling fundamental untuk mengantisipasi melonjaknya pelbagai persoalan kenakalan remaja.

Penyebab perilaku menyimpang, mulai dari seks bebas, pemakaian narkoba, dan perilaku amoral lainnya adalah bobroknya bangunan mental anak semenjak usia dini sehingga ketika menginjak usia remaja banyak terkecoh oleh hal-hal yang negatif. Dengan demikian menggalakkan pendidikan usia dini adalah solusi jangka panjang yang sangat mendesak untuk segera diterapkan di tengah carut-marutnya moralitas kehidupan para remaja.

Pendidikan anak usia dini yang sangat penting untuk segera digalakkan adalah pada wilayah informal. Tapi, sebelum lebih praktis mengasuh pendidikan anak usia dini dari pihak keluarga, terlebih dahulu kita mengetahui peta perkembangan kejiwaan anak.

Bijou dalam bukunya Development in the Preschool Years A Fungsional Analisis (1986) memetakan menjadi lima periode perkembangan, yakni periode pralahir (pembuahan sampai lahir), masa neonatus (lahir dari 10-14 hari), masa bayi (dua minggu sampai dua tahun), masa kanak-kanak (dua tahun sampai remaja) yang terdiri dari dua tahap, masa kanak-kanak dini (dua sampai enam tahun) dan masa kanak-kanak akhir (6-13 tahun), serta masa puber (11-16 tahun).

Peran keluarga
Keluarga dalam hal ini adalah aktor yang sangat menentukan terhadap masa depan perkembangan anak. Dari pihak keluarga perkembangan pendidikan sudah dimulai semenjak masih dalam kandungan. Anak yang belum lahir sebenarnya sudah bisa menangkap dan merespons apa-apa yang dikerjakan oleh orang tuanya, terutama kaum ibu.

Tidak heran kemudian apabila anak yang dibesarkan dalam situasi dan kondisi yang kurang membaik semasa masih dalam kandungan berpengaruh terhadap kecerdasan anak ketika lahir. Begitu sebaliknya. Layaknya Imam Syafi'i yang dalam jangka usia tujuh tahun sudah hafal Alquran. Ini karena semasa dalam kandungan, ibunya sering menghafalkan dan membacakan ayat-ayat Alquran.

Dengan demikian, pihak keluarga sejatinya banyak mengetahui perkembangan-perkembangan anak. Pada saat anak masih dalam kandungan, pihak orang tua harus lebih memperbanyak perkataan, perbuatan, dan tindakan-tindakan yang lebih edukatif.

Ketika anak itu sudah lahir, maka tantangan terberat adalah bagaimana orang tua dapat mengasihi dan menyayangi anak sesuai dengan dunianya. Poin yang kedua ini ketika anak-anak (usia bayi hingga dua tahun) mempunyai tahap perkembangan yang cukup potensial. Anak-anak mempunyai imajinasi dengan dunianya yang bisa membuahkan kreativitas dan produktivitas pada masa depannya.

Tapi, pada fase-fase tertentu banyak orang tua tidak memberikan kebebasan untuk berekspresi, bermain, dan bertingkah laku sesuai dengan imajinasinya. Banyak orang tua yang terjebak pada pembuatan peraturan yang ketat. Ini memang tujuannya untuk kebaikan anak.

Pengekangan dan pengarahan menurut orang tua tidak baik untuk memompa kecerdasan dan kreativitas anak. Bahkan, malah berakibat sebaliknya, yakni anak-anak akan kehilangan dunianya sehingga daya kreativitas anak dipasung dan dipaksa masuk dalam dunia orang tua. Paradigma semacam inilah yang sejatinya diubah oleh pihak orang tua dalam proses pendidikan anak usia dini.

Menarik salah satu pernyataan seorang pujangga Lebanon, Kahlil Gibran (1883). “Anak kita bukanlah kita, pun bukan orang lain. Ia adalah ia. Dan hidup di zaman yang berbeda dengan kita. Karena itu, memerlukan sesuatu yang lain dengan yang kita butuhkan. Kita hanya boleh memberi rambu-rambu penentu jalan dan menemaninya ikut menyeberangi jalan. Kita bisa memberikan kasih sayang, tapi bukan pendirian. Dan sungguh pun mereka bersamamu, tapi bukan milikmu.

Pernyataan tersebut cukup tepat untuk mewakili siapa sebenarnya anak-anak kita dan bagaimana seharusnya kita berbuat yang terbaik untuknya. Untuk itu pernyataan di atas sejatinya dijadikan referensi dalam memandang anak-anak oleh keluarga, terutama orang tua, yang ingin menjadikan anaknya berkembang secara kreatif, dinamis, dan produktif.

Keluarga yang selama ini masih cenderung kaku dalam mendidik anaknya pada masa kecil sejatinya diubah pada pola yang lebih bebas. Anak adalah dunia bermain. Dunia anak adalah dunia di mana keliaran imajinasi terus mengalir deras.

Anak sudah mempunyai dunianya tersendiri yang beda dengan orang dewasa. Hanya dengan kebebasan bukan pengerangkengan anak-anak akan bisa memfungsikan keliaran dan kreativitasnya secara lebih produktif. Hanya dengan dunianya anak-anak akan mampu mengaktualisasikan segenap potensi yang ada dalam dirinya.

Ikhtisar:
- Membangun kepribadian akan sangat efektif bila sejak dini.
- Masih banyak orang tua yang tak mampu mendidik anak dengan benar.
- Lingkungan pun akan sangat berpengaruh terhadap penciptaan karakter dan kepribadian anak-anak.

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sponsor by