Sudaryanto SPd
Guru (GTT) Bimbingan Konseling SMA N I Bayat, Klaten, Jawa Tengah
Tak dimungkiri, nilai adalah hal yang kerap menghampiri kehidupan manusia, baik yang kasat mata (terbaca) atau pun yang tidak. Nilai yang tak bisa dilihat misalnya, perilaku seseorang berbuat baik, ikhlas, keindahan, keburukan, dan lain sebagainya. Ini hanya dapat dirasakan oleh nurani orang yang melihatnya namun sangat susah diungkapkan dalam bentuk kata ataupun tulisan.
Sementara nilai yang dapat dilihat, misalnya, angka nilai hasil ujian sekolah murid SD hingga SMA-termasuk nilai Ujian Nasional. Juga nilai berupa huruf di buku rapor anak TK atau transkrip nilai mahasiswa.
Yang kita bicarakan di sini adalah nilai dalam bentuk konkret, yaitu dalam bentuk tulisan yang hampir seluruh orang-terutama di Indonesia-mengetahui serta masih 'terpaku' kepadanya. Mengapa hal ini penting untuk disampaikan? Karena, hal ini menyangkut masa depan pendidikan di negeri berpenghuni 223 juta jiwa ini serta generasi penerus di masa mendatang.
Salah satu contoh nyata ketergantungan terhadap nilai adalah pada mata pelajaran agama. Semua tahu, agama adalah 'pondasi' awal agar anak dan atau siswa dapat memiliki filter dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam agama dipelajari berbagai perilaku baik dan buruk. Dan, yang harus menjadi pilihan tentu saja perilaku baik, sehingga masa depan anak (harapannya) bisa lebih cerah.
Celakanya, yang terjadi dewasa ini, ilmu agama yang diajarkan bukannya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Melainkan, tak lebih dari sekadar dihapal guna keperluan ujian akhir untuk menentukan kelulusan mereka di akhir jenjang pendidikan. Walhasil, ilmu agama yang mereka pelajari hanya bertahan sesaat dan hilang ketika ujian berakhir. Sementara akhlak anak, dijamin akan jeblok-bahkan buruk! Inilah awal 'kegagalan' mereka.
Sedangkan sejauh mana ketergantungan orang terhadap nilai di atas kertas, dapat dilihat saat pembagian rapor di sekolah, terutama SD. Setelah rapor selesai dibagikan, para orang tua siswa yang angka rapor anaknya tak ada yang merah, maka bisa dipastikan ia bangga dan sibuk menanyakan kepada orang tua siswa yang lain.
Pun, hingga jenjang perguruan tinggi (PT), hal seperti ini ternyata masih terjadi. Misalnya, usai ujian semester mahasiswa berjejal di depan papan pengumuman untuk melihat hasil ujian. Mahasiswa yang nilainya bagus, pasti bangga. Sementara yang nilai mata kuliahnya C bahkan D dipastikan merasa dirinya 'sangat buruk'. Dalam konteks ini, amat jelas bahwa 'nilai di atas kertas' bak 'dewa' yang pantas untuk dipuja-puja.
Harus diakui, pendidikan di negeri kita jauh tertinggal dari Jepang. Di Negeri Samurai itu, tak ada istilah tinggal kelas meskipun nilai siswa di bawah rata-rata. Mereka terus saja dididik hingga lulus SMA. Ketika lulus SMA, mereka telah disediakan berbagai jurusan di perguruan tinggi sehingga tinggal memilih jurusan yang pas dengan keahliannya selama ini.
Dengan sistem seperti ini, bisa dipastikan mental anak didik untuk maju akan terus ada, bukannya tertekan. Karena, mereka yakin nilai di atas kertas bukan ukuran sukses tidaknya seseorang di masa mendatang.
Untuk menuju hal ini, yang paling penting yang harus dioptimalkan adalah peran orang tua (keluarga). Orang tua harus ingat, nilai jelek di sekolah atau perguruan tinggi tidak serta merta bisa menunjukkan cerdas tidaknya seseorang atau berhasil tidaknya si anak di masa mendatang.
Pun, beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa orang yang sering sukses di berbagai bidang adalah mereka yang memiliki perilaku 'baik dan benar' yang tidak hanya mengandalkan nilai di atas kertas. Jadi, yang harus dilakukan adalah melihat potensi anak dan mengembangkannya semaksimal mungkin.
Kini, sudah saatnya kita kembali pada tujuan awal/utama dari penyelenggaraan pendidikan di negeri ini, yakni membentuk karakter manusia yang cerdas dan mulia. Bukan hanya bersandar pada ranah kognitif, namun juga afektif dan psikomotorik.
Nilai di atas kertas memang perlu, tetapi bukan sebuah kemutlakan untuk mengukur kemampuan seseorang. Jika kita selalu tergantung pada nilai, jelas akan berujung pada fase kecanduan nikmat sesaat namun menghancurkan masa depan. Tentu kita tak menginginkan hal itu terjadi, bukan?
( )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar